• Breaking News

    BI SUDAH MELUNCURKAN UANG NKRI BARU

    Friday, March 21, 2014

    Bidang Agribisnis Luncurkan ‘Jahe Saritem’


    Singosari Fm, (Brebes) - Bidang Agribisnis Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Holtikultura Kab Brebes meluncurkan hasil olahan pertanian berupa  Jahe, Serai dan Beras Hitam (Jahe Saritem). Bahan olahan tersebut menjadi minuman yang sangat menyehatkan tubuh dan menambah vitalitas organ tertentu. 

    “Minuman ini tidak berefek samping, karena sangat tradisional dan lokal,” kata Kepala bidang Agribisnis Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Holtikultura Kab Brebes Ir H Sodikin saat ditemui Humas di ruang kerjanya, Kamis (20/3/14).

    Sodikin berharap, minuman olahan ini bisa menjadi komoditas utama  dari Brebes selain Bawang Merah dan Telur Asin.  “Bahan utama beras hitam,-bukan beras merah atau ketan hitam- sangat eklusif di Brebes. Karena hanya bisa ditanam di daerah Sirampog, Brebes. Sehingga dia berkeyakinan, Jah Saritem bisa laris manis dan bakal mendapatkan tempat dihati masyarakat sebagai minuman kesehatan yang digemari. “Jah Saritem, bisa diminum kapan saja,” terang Sodikin. 

    Di dalam beras hitam, lanjutnya, terkandung unsur kalori, protein, lemak, phospor, karbohidrat, kalsium, zat besi dan vit B. “Kandungan terbesar, antosiamin. Beras hitam ini memiliki manfaat meningkatkan daya tahan tubuh dan memulihkan stamina saat kelehan atau habis sakit. Juga bisa memperbaiki sel hati dan kelainan fungsi ginjal. “Sangat baik untuk penderita diabet,” kata Sodikin.
    Manfaat lain, sebagai anti oksidan dan membersihkan kolesterol dalam darah. Disamping itu, menghambat penuaan dan membuat tubuh lebih terasa nyaman, ringan. Jahe Saritem, kata Sodikin, akan disuguhkan sebagai minuman Gubernur Ganjar Pranowo dan Habib Syeh Abdul Qodir Assegaf  serta undangan lainnya pada acara HUT Linmas tingkat Jateng di Brebes pada 27-28 Maret mendatang. 

    Jaman dahulu konon, hanya petani istimewa saja yang ditunjuk  untuk menanam beras ini, karena khusus untuk keluarga kraton saja. Lebih jauh Sodikin menerangkan, beras hitam, bagi sebagian masyarakat Indonesia belum banyak yang mengenal.  Padahal, beras hitam selain pulen, enak, juga mengandung nilai gizi yang tinggi dan bisa dijadikan obat. Di Brebes, beras ini bisa di tanam dan didapatkan di dataran tinggi (1000-1500 DPL). Salah satunya di Desa Kaligiri, Kec. Sirampog lebih kurang 40 kilometer dari Kota Brebes.

    Bagi warga Desa Kaligiri, Beras Hitam tidak asing lagi karena sejak bertahun-tahun yang silam beras ini sudah ditanam dan dikonsumsi warga setempat. Namun tidak ditanam secara besar-besaran karena tidak laku dipasaran umum dan belum diketahui manfaatnya. Beras hitam saat itu hanya dijadikan campuran jagung bagi masyarakat yang mengkonsumsi jagung, karena bisa menambah rasa dan aroma. ”Kalau paceklik, orang-orang pada makan jagung, nah beras hitam inilah campurannya, jadi enak, lezat dan nikmat,” terang petani asal Desa Kaligiri Slamet Yuwono (50) saat ditemui penulis di rumahnya, samping balai desa Kaligiri.

    Slamet sendiri tidak tahu manfaat dari keunggulan beras hitam. Dia merasa tertantang untuk menanam dan mengembangkan beras hitam setelah mendapatkan penyuluhan dari Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) dari Dinas Pertanian Kab Brebes. Karena disitu dia mendapatkan ilmu, manfaat, kandungan gizi dan prospek pasar beras hitam.  ”Sejak tiga tahun yang lalu, saya nanam terus beras hitam,”  kenang suami dari Suparti. Kata Slamet, Warga Sirampog banyak yang tidak berminat menanam beras hitam karena masa panennya lama, meskipun cara penanaman dan ongkos produksinya sama. ”Kalau beras putih hanya berumur 100 hari, beras hitam sampai 5 bulan, baru bisa dipanen,” kata Slamet.

    Awalnya, ayah dari Panji Yuliansah (11) itu hanya menanam 1000 meter, meskipun sawahnya luas. Sekarang Slamet menanam beras hitam di lahan seluas 0,7 hektar. Untuk pemasaran, kebetulan dirinya punya teman-teman diluar kota yang mengetahui manfaat beras hitam, maka yang menjual temannya itu. ”Teman saya yang ada di Purwokerto, Guci Tegal, Yogya dan Bogor ikut menjualnya dengan menamakan obat beras hitam,” tuturnya.

    Sehingga, lanjutnya, membuat harga beras hitam itu mahal. ”Saya menjual 15 ribu rupiah perkilogram, tapi bisa laku 40 sampai 50 ribu rupiah setelah dijual dikota,” ungkap Slamet yang juga Ketua Unit Pengelola  Farmer Manage Activity (UP FMA) atau kegiatan penyuluhan yang dikelola petani sendiri.

    Untuk memudahkan pengiriman, Slamet menjualnya dengan kemasan 1 kilogram dengan bungkus plastik. Setiap sebulan sekali mengirim lewat jasa paket kepada teman-temannya diluar kota. ”Sebulan sekali saya bisa mengirim 1 ton kepada teman-teman saya di berbagai daerah,” ujarnya.
    Kata Slamet, dengan dibungkus per 1 kilogram tidak mengesankan sebagai beras konsumsi tetapi benar-benar untuk obat. Cara menanaknyapun tidak seluruhnya dengan beras hitam. Tetapi hanya dicampurkan saja. Dengan perbandingan, setiap 1 kilogram beras putih hanya dicampurkan 1 ons beras hitam atau 1:10 bisa juga 1: 8.

    No comments:

    Post a Comment

    Note: Only a member of this blog may post a comment.

    Fashion

    Beauty

    Travel