• Breaking News

    BI SUDAH MELUNCURKAN UANG NKRI BARU

    Tuesday, November 18, 2014

    Sepertiga lebih anak di Brebes bertubuh pendek.


    Singosari Fm, (Brebes) - Upaya akselerasi penurunan cakupan Prevelensi Stunting di Kabupaten Brebes, Kementrian Bappenas Republik Indonesia melakukan kegiatan orientasi mobilisasi sosial bagi organisasi masyarakat selama 3 hari ( 18-20 Nov 2014), bertempat di Aula Bappeda Brebes hadir setiap pertemuan sebanyak 85  orang, dari unsur ketua/pimpinan Organisasi Masyarakat, TP PKK, Unsur Perwakilan dari Kecamatan se-Kabupaten Brebes. Narasumber kegiatan ini dari Buang Marzuki dari Dinkes Prov Jateng,  dr. Nunuk Irgawati dari Dinkes Kabupaten Brebes, Khaerul Abidin dari Bappeda Brebes. 

    Acara dibuka Emastoni Elzam selaku Sekretaris daerah Brebes, ia menuturkan  untuk penurunan stunting di Kabupaten Brebes yang masih tinggi di Jawa Tengah  maka Pemkab Brebes berharap ada dukungan kerjasama lintas sektoral yaitu untuk mau dan mampu memberikan informasi di masyarakat supaya memastikan Ibu yang menyusui untuk memberikan ASI nya saja tanpa diberikan makanan dan minuman apapuns selama 0-6 bulan, selama kehamilan ibu untuk memperbaiki gizinya, selama ibu hamil untuk datang ke layanan kesehatan seperti posyandu atau puskesmas, berikan Imunisasi dasar lengkap, dan pesan-pesan lain yang disampaikan oleh narasumber, saya berharap kepada pimpinan ormas dan organisasi basis lainnya untuk bantu memecahkan persoalan kesehatan di Kabupaten Brebes.

    Buang Marjuki Dinas Kesehatan Prov Jateng menuturkan ada 1/3 lebih dari usia anak (200 anak) di Brebes itu stunting ( anak bertubuh pendek), ini  artinya  masih ada indikasi buruknya status gizi di Brebes. Pemerintah Kabupaten Brebes harus ekstra kerja keras untuk menanggulangi masalah utama dalam  pemenuhan gizi di Brebes.

    Ia juga menuturkan jika dari hasil Riskesdas 2013 menyatakan, sebanyak 37 persen anak Indonesia mengalami stunting. Angka ini memiliki sebaran yang tidak sama antar propinsi. Di beberapa propinsi angka anak yang mengalami stunting mencapai 50 persen.  Prevalensi anak bawah lima tahun yang masuk kategori pendek dan sangat pendek mencapai 40 persen di desa dan lebih dari 30 persen di perkotaan.  Sebanyak 7,7 juta anak di bawah lima tahun (35,6 persen) mengalami stunting.

    Anak berbadan pendek atau dikenal dengan sebutan stunting memiliki nilai kecerdasan yang jauh di bawah rata-rata anak normal. Kondisi ini disebabkan oleh kualitas asupan gizi yang buruk saat anak masih berada dalam dan awal masa pertumbuhan. Stunting merupakan istilah para nutrinis untuk penyebutan anak yang tumbuh tidak sesuai dengan ukuran yang semestinya (bayi pendek). Stunted merupakan kekurangan gizi kronis atau kegagalan pertumbuhan dimasa lalu dan digunakan sebagai indikator jangka panjang untuk gizi kurang pada anak.

    Selanjutnya, Khaerul Abidin dari Bappeda menyampaikan, Pemberian gizi yang baik bagi anak adalah hak dasar anak yang harus diterima, sebagai orang tua kita punya kewajiban untuk memberikan kepentingan terbaik bagi anak, kondisi cakupan ASI 0-6 bulan di Kabupaten sampai dengan september 2014 masih 68,35% artinya masih di bawah target Nasional, sehingga dengan kegiatan ini kami juga berharap kepada peserta yang hadir untuk bantu menaikkan cakupan dengan cara menyampaikan informasi tentang pentingnya ASI Ekslusif, pemberian gizi berimbang, sehingga generasi yang akan datang menjadi generasi yang cerdas, ceria dan beraklaqul karimah.

    Peserta yang hadir juga mendapatkan materi tentang pemahaman pentingnya Asi Ekslusif yang disampaikan oleh dr. Nunuk Irgawati, selanjutnya di akhir acara dilakukan penandatangan kesepakatan bersama pimpinan organisasi masyarakat dalam rangka mensosialisasikan percepatan penurunan prevelensi stunting, dan memastikan semua Ibu yang menyusui untuk memberikan ASI Ekslusif kepada bayinya.

    No comments:

    Post a Comment

    Note: Only a member of this blog may post a comment.

    Fashion

    Beauty

    Travel